IA MENCINTAI SALIBNYA

“Ia lebih mencintai “salibNya”, melebihi cinta kita padaNya…” kata Patung Maria dengan pandangan kosong ke bangku-bangku gereja di depan mereka.

“Yusuf….” suara lembut terdengar dari bibir seorang wanita yang memberikan gambaran kecantikan hati dan fisik yang luar biasa.

“Ya, Maria….,” suara berat terdengar kemudian dari sisi kanan altar gereja St. Yusuf Ambarawa.

Malam itu Patung Maria yang ada di sebelah kiri altar berjalan dan duduk tepat di anak tangga tertinggi di depan altar. Patung Yusufpun mendekat setelah sapaan yang tak asing di telinganya menembus dinding – dinding rongga telinganya.

“Hari ini telah tiba kembali lagi…,” kata Patung Maria kemudian,”Sebuah pedang yang tajam akan menusuk hatiku (Lukas 2:35), sakit itu tak akan hilang, perih itu akan selalu terasa, bergetar di seluruh tubuhku,”

“Hari dimana anakku yang paling aku cintai memutuskan diri untuk disalibkan,” sahut Patung Yusuf di sebelah Patung Maria,”Kadang aku sedikit bertanya dalam hati, kenapa aku aku tidak ada saat-saat itu, seandainya aku belum meninggal, seandainya aku..”

“Seandainya engkau masih ada Yusuf… Dia tidak akan pernah tersalibkan!!”

“Kenapa?” tanya Patung Yusuf sedikit terkejut.

“Aku tahu cintamu yang besar pada anak itu…. Kasih seorang bapa yang masih aku lihat di matamu hingga saat ini. Engkau akan mengorbankan diri apapun yang akan terjadi padamu untuk Anak itu, seperti berbagai upayamu membebaskan kami dari kejaran kejaran Herodes. Petruspun menetakkan pedangnya pada telinga salah satu tentara bait Allah saat Dia ditangkap malam itu, apalagi yang akan kau lakukan? Bisa jadi engkau yang akan merelakan diri disalibkan menggantikanNya!”

“Anak itu….” kata patung Yusuf lirih.

“Ia lebih mencintai “salibNya”, melebihi cinta kita padaNya…,” kata Patung Maria dengan pandangan kosong ke bangku-bangku gereja di depan mereka.

Dua ekor semut hitam yang berjalan beriringan menyusuri sudut-sudut tabernakel juga tengah bercakap malam itu. Malam dimana esok harinya peringatan Kisah Sengsara Yesus Kristus atau yang disebut Jumat Agung.

“Kenapa aku tidak dilahirkan sebagai manusia? Hanya menjadi seekor semut yang bisa mondar mandir menunggu makanan tiba di sini,” seloroh salah satu semut.

“Kenapa engkau berbicara seperti itu?”

“Iya, manusia sudah terjamin dengan kematiannya nanti, mereka mendapat penebusan dosa dengan tubuh dan darahNya yang kudus.”

“Lihat salib emas dengan tubuhNya yang tergantung itu,” semut-semut itu memandang sebuah patung di atas tabernakel,” kenapa Ia melakukannya?”

“Karena begitu besar cintaNya kepada manusia..” jawab semut yang lainnya,”Tapi lihatlah selalu orang-orang yang tiap minggu atau bahkan tiap hari duduk di bangku-bangku itu, mereka hanya menghayati “besar cintaNya” hanya dengan syukur…”

“Salah?”

“Tidak sama sekali, bahkan harus!”

“Aku bingung..”

“Berapa dari mereka pulang dengan kosong… sebatas mulut berucap. Apalagi setelah mereka berada didalam dunianya kembali… saat mereka senang dan mendapat masalah berat, salib ini hilang dari kehidupan mereka. Mereka hanya terbiasa menyalahkan dan menuntut Tuhannya, apalagi bagaimana membalas cintaNya, tak akan terpikir di otak mereka dan tak akan terbersit di hati mereka?”

“Lalu kenapa kamu masih ingin menjadi manusia?” tanya salah satu semut kemudian.

Patung Maria dan patung Yusuf masih duduk di lantai anak tangga di depan altar. Malam itu sangat sepi. Tidak ada tuguran seperti tahun-tahun biasanya. Pandemi Covid-19 masih meluruhkan beberapa tatanan peribadatan gereja.

“Ia sangat mencintai salibNya.. Ia sangat mencintai UmatNya..,” kata Patung Yusuf melanjutkan percapakan,”Bagaimana seorang Penggembala berakhir menjadi domba sembelihan?”

“Karena sejak kedatangannya Ia sudah ada bersama domba-dombaNya dan menjadi bagian dari mereka. Ingatkah kau berapa penginapan yang menolakmu saat menjelang kelahirannya. Ia harus berada di kandang domba. Karena Ia memang harus menjadi Penggembala yang juga domba sembelihan.”

“Benar Maria… Lalu bagaimana para Penggembala tertabis yang hanya berada di dalam kamar dan hanya mendengar bisikan-bisikan atau pikirannya sendiri tentang domba-dombanya? Bagaimana Ia bisa meneladan Putraku yang aku kasihi? Apakah mereka takut akan menjadi domba sembelihan? Bagaimana ia benar-benar tahu apa yang domba-dombanya butuhkan? Hanya berbuah penghakiman-penghakiman Pilatus dari bisikan mulut-mulut Imam Agung!”

“Acch… !”patung Maria berteriak sambil meremas dadanya,”Sebuah pedang yang tajam menusukku kembali…! Anakku pasti mendapatkan satu luka kembali Yusuf!!”

“Aku bersamamu Maria,”teriak patung Yusuf menenangkan Patung Maria. ,”dan… biarkan Anakmu memeluk salibNya dengan penuh cinta,”

Wieg/Selamat Jumat Agung 2022.

Advertisements
Loading...
Advertisements
Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published.